Minggu, 25 Mei 2014

Real Madrid Juara Champions League, Istana Pasir Florentino Perez


Florentino Perez melonjak kegirangan begitu Sergio Ramos mencetak gol penyeimbang pada menit ke 93 dalam Final Champions League di Lisbon kemarin. Bayang-bayang kekalahan yang menghantui sepanjang 90 menit setelah gol pertama Altelico Madrid tiba-tiba sirna dihadapannya.
Ya, dia patut kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah yang paling diidamkan pasalnya setelah bertahun-tahun menggelontorkan ratusan juta euro membangunkan dinasti yang dia sebut Los Galacticos di tengah krisis ekonomi yang melanda Spanyol baru kali ini kesampaian.
Sejak dilanda great depression pada tahun 2008, perekonomian negeri matador itu memang belum sepenuhnya pulih. Pada akhir 2013 saja bank sentral Spanyol menyatakan bahwa hutang publik menyentuh angka 961 miliar Euro, atau 94,02% dari Produk Domestik Bruto mereka. Dan nyatanya angka itu merupakan yang tertinggi sejak 1994.
Belum masalah inflasi, tingginya inflasi berdampak terhadap meningkatnya angka pengangguran di negara yang terletak di Semenanjung Iberia itu. Sampai-sampai, angka pengangguran di negara yang diperintah Raja Juan Carlos I itu mencapai 20,43% di penghujung 2013. Angka persentase ini adalah tingkat pengangguran tertinggi sejak 1976.
Dan Madrid menjadi kota dengan tingkat pengangguran tertinggi di Eropa. Tingkat pengangguran di Madrid (25,93%) jelas lebih tinggi jika dibandingkan dengan London yang hanya sebesar 6,8% pada tahun yang sama. Atau, jika dibandingkan dengan Paris yang hanya “menampung” pengangguran sebesar 3.8%.
Florentino Perez barangkali juga lupa bahwa klub yang dipimpinnya malah menambah kompleksitas masalah ekonomi di ibukota dengan Program jor-joran yang dilakukannya. Betapa tidak, Pemerintah kota Madrid ditengah krisis pada tahun 2013 masih sempat memberikan bantuan ratusan juta euro kepada Real Madrid dari dana pinjaman Pemerintah Jerman. Belum lagi keringanan-keringanan lain baik dari Pemerintah kota maupun dari pihak kerajaan Spanyol sendiri, semisal dalam hal pajak.
Komisi Uni Eropa bahkan telah memperingatkan Pemerintah Spanyol terhadap kebijakan mereka pada beberapa klub sepakbola, kalau mereka benar-benar ingin keluar dari krisis ekonomi yang melanda. Perlu di catat bahwa hanya sedikit klub sepakbola Spanyol yang benar-benar sehat secara finansial, salah satunya FC. Barcelona. Disamping konsep pengelolaan klub yang seimbang, Barcelona adalah kota pelabuhan dan industri yang tahan terpaan badai krisis.
Jadi loncatan Florentino Perez, senyum sangat lebar pemain termahal dunia Gareth Bale setelah mencetak gol atau teriakan emosional Cristiano Ronaldo sambil memamerkan otot tidak lebih dari euforia murid taman kanak-kanak di wahana permainan, karena pada akhirnya mereka akan kembali diperhadapkan pada realita utang klub yang membengkak, krisis ekonomi yang melanda ibukota dan bangunan istana pasir mereka yang terancam sirna diterpa hempasan ombak.

Kamis, 08 Mei 2014

Bidikmisi atau Membidik Untuk Sebuah 'Misi'


Rumah saya itu tampaknya selalu jadi ajang curhat dan posko pengaduan untuk berbagai masalah. Seperti kemarin, kali ini datang keluarga jauh dari Maluku Utara. Keluhannya juga langsung ke pokok masalah, "o anak, coba ale sadarkan dulu beta pung anak gadis" katanya dengan logat Maluku yang kental.
Dengan setengah bercanda saya jawab, "Sadarkan? Pingsan dimana dia Pak?". Rupanya anak si bapak yang mahasiswi Program Bidikmisi Unhalu itu berniat keluar dari asrama dengan alasan tertekan dan stres oleh ketatnya aturan asrama bidikmisi.
Logika saya, secara normatif yang namanya asrama tentu harus dijalankan dengan aturan yang mengikat. Tapi demi tidak mengecewakan si bapak, saya berjanji untuk menemui anaknya untuk diajak sedikit berkompromi mengingat kondisi ekonomi kedua orang tuanya.
Tapi di sisi lain, kejadian ini juga seperti mengkonfirmasi informasi yang saya peroleh selama ini bahwa pelaksanaan Program ini memang agak menyimpang. Padahal dari sononya bidikmisi itu 'hanya' program bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa kurang mampu dengan penghasilan orang tua paling tinggi 3 juta rupiah perbulan.
Pada praktiknya di Unhalu Program bidikmisi ini dijalankan mirip-mirip mengelola pesantren. Mahasiswi diwajibkan menggunakan jilbab tradisional (cenderung ekstrim) plus aturan ketat islami lainnya, bahkan dari informasi yang saya peroleh para mahasiswi itu dilarang tidur sekamar walaupun dengan sesama jenis sekalipun (boro boro dengan lawan jenis).
Apakah ini hanya sekedar 'metode' segelintir orang atau memang menjadi kebijakan pimpinan universitas di tingkatan yang paling tinggi saya tidak tau pasti. Yang jelas hal ini mengusik tanda tanya kita. Apalah hak kita umat Islam memonopoli Program ini. Bidikmisi tidak bisa seenaknya digunakan sebagai media indoktrinasi paham ataupun aliran tertentu.
Keputusan keluar dari si mahasiswi itu adalah hal lain, karena itu menyangkut pilihan yang sifatnya pasti subyektif tapi pelaksanaan programnya sendiri adalah hal lainnya lagi yang patut juga kita kritisi.