Kamis, 08 Mei 2014
Bidikmisi atau Membidik Untuk Sebuah 'Misi'
Rumah saya itu tampaknya selalu jadi ajang curhat dan posko pengaduan untuk berbagai masalah. Seperti kemarin, kali ini datang keluarga jauh dari Maluku Utara. Keluhannya juga langsung ke pokok masalah, "o anak, coba ale sadarkan dulu beta pung anak gadis" katanya dengan logat Maluku yang kental.
Dengan setengah bercanda saya jawab, "Sadarkan? Pingsan dimana dia Pak?". Rupanya anak si bapak yang mahasiswi Program Bidikmisi Unhalu itu berniat keluar dari asrama dengan alasan tertekan dan stres oleh ketatnya aturan asrama bidikmisi.
Logika saya, secara normatif yang namanya asrama tentu harus dijalankan dengan aturan yang mengikat. Tapi demi tidak mengecewakan si bapak, saya berjanji untuk menemui anaknya untuk diajak sedikit berkompromi mengingat kondisi ekonomi kedua orang tuanya.
Tapi di sisi lain, kejadian ini juga seperti mengkonfirmasi informasi yang saya peroleh selama ini bahwa pelaksanaan Program ini memang agak menyimpang. Padahal dari sononya bidikmisi itu 'hanya' program bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa kurang mampu dengan penghasilan orang tua paling tinggi 3 juta rupiah perbulan.
Pada praktiknya di Unhalu Program bidikmisi ini dijalankan mirip-mirip mengelola pesantren. Mahasiswi diwajibkan menggunakan jilbab tradisional (cenderung ekstrim) plus aturan ketat islami lainnya, bahkan dari informasi yang saya peroleh para mahasiswi itu dilarang tidur sekamar walaupun dengan sesama jenis sekalipun (boro boro dengan lawan jenis).
Apakah ini hanya sekedar 'metode' segelintir orang atau memang menjadi kebijakan pimpinan universitas di tingkatan yang paling tinggi saya tidak tau pasti. Yang jelas hal ini mengusik tanda tanya kita. Apalah hak kita umat Islam memonopoli Program ini. Bidikmisi tidak bisa seenaknya digunakan sebagai media indoktrinasi paham ataupun aliran tertentu.
Keputusan keluar dari si mahasiswi itu adalah hal lain, karena itu menyangkut pilihan yang sifatnya pasti subyektif tapi pelaksanaan programnya sendiri adalah hal lainnya lagi yang patut juga kita kritisi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar