Rabu, 08 Oktober 2014
Barca dan Dilema Referendum Catalunya
Belum lama rasanya Raja Felipe VI naik tahta, tepatnya 19 Juni 2014 lalu mengantikan sang ayah Raja Juan Carlos yang berkuasa hampir 39 tahun. Penobatan Felipe VI membuat rekor baru yakni menjadi raja termuda di Eropa di usia 46 tahun, dengan catatan warisan krisis ekonomi dari sang ayah. Krisis ekonomi yang mengakibatkan banyaknya tingkat pengangguran dalam 6 tahun terakhir.
Efek dari krisis ini adalah banyaknya wilayah otonom khusus semisal Basque dan Catalunya yang menginginkan untuk memisahkan diri dari kerajaan Spanyol. Untuk kasus Catalunya, banyak alasan di balik keinginan mengadakan referendum. Ada yang mengatakan bahwa Catalunya memiliki perbedaan dengan Spanyol dari segi bahasa, kebudayaan, lagu kebangsaan, identitas serta kebijakan politik dengan wilayah Spanyol lainnya.
Namun alasan yang paling logis dan masuk akal adalah Catalunya ingin berhenti menjadi “sapi perah” Spanyol secara ekonomi. Wilayah Catalunya merupakan negara paling kaya di Spanyol dengan menyumbang seperlima ekonomi Spanyol, bahkan jika nantinya Catalunya berhasil merdeka, negara ini akan menjadi negara dengan produk domestik bruto per kapita sekitar €30.500 atau menjadi negara yang memiliki ekonomi setingkat Denmark dan Jerman.
Keinginan rakyak Catalan untuk merdeka sudah diamini oleh pemerintah setempat lewat pemimpin mereka Artur Mas yang sudah menandatangani dekrit terkait referendum. Mas juga mengangkat tujuh orang anggota komite pengawas referendum demi mempersiapkan pemungutan suara pada 8 atau 9 November mendatang dengan 15 Oktober sebagai tonggak penentuan pengumumannya.
Pemerintahan Spanyol sendiri tak tinggal diam, referendum diramalkan akan memecah negara dan pemungutan suara dianggap sebagai hal yang ilegal karena telah melanggar konstitusi dasar negara Spanyol yang di buat tahun 1979. Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy pun menyatakan akan banding ke tingkat Mahkamah Konstitusi terkait referendum jika terjadi.
Lantas Bagaimana jika Catalunya jadi merdeka?
Banyak hal yang bakal terjadi dalam peta politik Eropa. Wilayah seperti Basque di Spanyol juga menginginkan hal serupa, begitu pula dengan Venesia di Italia, serta Irlandia Utara dari Inggris yang kembali giat menyuarakan referendum yang sempat gagal.
Untuk persepakbolaan Spanyol kemungkinan absennya FC Barcelona di kancah La Liga adalah sebuah kerugian besar. Demikian halnya dengan Barca yang pasti akan kehilangan lawan kompetitif di liga domestik. Sulit rasanya membayangkan La Liga tanpa Barca dan sebaliknya.
Barcelona sendiri di kenal sebagai alat perjuangan bagi warga Catalan, Semboyan “mes que un club” dari bahasa Catalunya yang dalam bahasa Indonesia "lebih dari sekedar klub" menegaskan bahwa FC Barcelona memang adalah simbol perlawanan terhadap sebuah tirani.
Kemenangan Barcelona dalam laga El Clasico melawan Real Madrid dapat dikatakan sebagai kemenangan publik Catalunya atas pemerintahan Spanyol. Seruan kemerdekaan kerap menggema dalam stadion Camp Nou saat laga melawan Madrid. Semenjak kematian Jendral Franco kampanye kemerdekaan memang amat terasa dan berjalan terus menerus hingga kini. Lalu ketika nanti tidak ada lagi "tirani" yang ingin di lawan, rasanya semangat "mes que un club" pun akan berangsur kehilangan makna.
Pemain Barcelona sendiri banyak yang mendukung kemerdekaan Catalunya, tak kurang Gerard Pique, Xavi Hernandez, Bojan belum lama ini ikut turun ke jalan bersama lautan manusia yang memakai kaus bendera Catalunya merah-kuning merayakan hari kelahiran Catalunya 11 September silam.
Namun diantara nama beken diatas nama Oleguer Presas adalah nama yang akan di ingat publik Catalan, Oleguer pesepakbola yang paling vokal dalam memperjuangkan kemerdekaan Catalunya. Pemain yang pernah memperkuat Barcelona kurun 2001 sampai 2008 ini konsisten menyuarakan referendum. Oleguer juga sempat menolak panggilan timnas Spanyol era kepelatihan Luis Aragones, dirinya pun hanya memperkuat Timnas Catalunya yang hingga kini belum diakui oleh FIFA.
Dia rajin menulis dalam berbagai jurnal di Spanyol yang kemudian dibukukan dalam kumpulan tulisan berjudul “Cami D’Itaca/ The Road to Ithaca”. Dia menulis tentang Jenderal Franco, perang, dan kemerdekaan Catalunya. Membela aktivis kemerdekaan Basque yang juga salah satu wilayah Spanyol. Oleguer berpendapat pengadilan hukuman atas aktivis Basque dinilai tidak independen. Oleguer menulisnya dalam bahasa Basque yang dibaca orang banyak sebagai sebuah pemberontakan.
Oleguer rela karirnya meredup, ditinggal sponsor, diserang media, mendapat cemoohan dari suporter lawan, hingga diharamkan bermain di tanah Spanyol sampai mengakhiri karir di Ajax Amsterdam.
Kemungkinan Barcelona otomatis keluar dari La Liga, karena Undang-undang Olahraga Spanyol menyatakan bahwa hanya satu negara non Spanyol yang berhak bermain di La Liga atau kompetisi resmi sepak bola Spanyol yaitu Andorra. Selain Barcelona, banyak klub asal Catalunya seperti Espanyol, Gimnastic, Girona, Sabadell, Hospitalet dll terancam tak dapat mengikuti kompetisi profesional di Spanyol.
Barcelona juga terancam tidak bisa berkompetisi di Liga Champions dalam beberapa waktu mengingat adanya proses badan organisasi sepak bola untuk sebuah negara baru, format liga dan nilai koefisien untuk mengikuti Liga Champions.
Lepas dari itu sebagai seorang Cules, saya tentu berharap Catalunya tidak perlu berpisah dari Spanyol. Demi sebuah iklim kompetisi dan demi spirit Mes Que Un Club agar jangan kehilangan makna. Seekor singa di sebut sebagai raja hutan karena habitat yang mengelilinginya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar