Minggu, 21 Juli 2013

MARAH ala Presiden Kita


Beberapa waktu lalu Presiden SBY secara terbuka mengungkapkan kemarahannya terhadap Kementrian Hukum dan HAM yang dinilainya lamban merespon kejadian di Lapas Tanjung Gusta. "Saya tidak bisa terima ini .....saya mengetahui kejadiannya terlebih dahulu lewat media....", demikian potongan pernyataan Presiden SBY sebelum Amir Syamsuddin atau Denny Indrayana membuat pernyataan.

Ini bukan kejadian pertama Presiden SBY terekspos marah oleh media. Desember 2012 misalnya SBY marah setelah mengetahui ada 4 Gubernur yang tidak hadir di acara penyerahan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) 2013-2014. Keempat Gubernur itu adalah Lampung, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan.

Hal yang menarik, masyarakat tidak ikut-ikutan marah kepada empat Gubernur yang dimarahi Presiden, Tapi justru balik marah atau mengkritisi Presiden SBY. Berbagai kritik pedas kepada SBY bermunculan di media-media sosial. Yang kecewa dengan cara SBY marah, menulis semaunya. Seakan tidak mau peduli yang mereka kritik adalah Orang Nomor Satu di Indonesia.

Memang bukan baru kali ini Jenderal yang bergelar Doktor itu marah, Sehingga faktor ini menjadi salah satu alasan, mengapa muncul kemarahan di kalangan masyarakat. SBY pernah memarahi Bupati di acara yang digelar di Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional). Tahun lalu, SBY juga marah kepada murid-murid sekolah dasar yang tidak mendengarkan pidatonya.

Anggota DPR-RI dari salah satu fraksi besar di Senayan misalnya beberapa tahun lalu menceritakan terkait sikap Presiden SBY yang gampang marah. Yang menjadi sasaran Menteri Kelautan Cicip Soetardjo. Cicip sempat tidak tidak ditegur oleh Presiden.

Kebiasaan SBY yang suka marah ini sangat kontras dengan waktu-waktu yang lalu. Sebelum menjadi Presiden di 2004 terutama di saat berkampanye, SBY selalu tampil secara simpatik. Ia tidak pernah mengesankan sebagai seorang pemimpin yang gampang marah. Kalau ada pertanyaan, sesinis apapun, dijawabnya dengan sikap seorang yang sudah terbentuk kesabarannya.

Sehingga muncul persepsi, Presiden sebetulnya selama ini, secara sengaja menyembunyikan kebiasaan buruknya. Atau SBY secara sadar melakukan desepsi kepada rakyatnya demi untuk mencapai obsesinya.

Maka tidak heran jika muncul kecurigaan SBY, sebetulnya seorang pemarah. Hanya saja karena kebutuhan pencitraan, kebiasaan pemarah itu, ditutup sedemikian rupa. Sebab agak kurang masuk akal, dalam waktu singkat, tiba-tiba saja SBY sudah berubah. Apakah SBY menganggap, karena waktunya sebagai Presiden semakin menipis, maka dia tidak perlu lagi berbasa-basi?

Atas dasar itu muncul konklusi subyektif, Presiden SBY lebih banyak berbuat marah dan hampir tidak pernah membuat rakyatnya senang dan tenang. Rakyat hanya menjadi obyek untuk kepentingan kekuasaan yang durasinya sangat pendek.

Marah dan apapun bentuknya, memang bukan monopoli Presiden SBY. Sehingga kalaupun ada yang reaktif terhadap sikap Presiden, Pak SBY pun sepantasnya tidak perlu marah (lagi). Soalnya para Presiden pendahulunya, juga sama. Mereka pun suka marah-marah. Hanya saja cara mereka marah, agak berbeda dengan SBY.

Soekarno sebagai manusia biasa, bukan sekali dua kali diketahui memendam amarah. Tetapi ketika Soekarno marah dalam kapasitas sebagai pemimpin, yang jadi sasarannya adalah orang asing, bekas penjajah dan kaum kapitalis. Bukan rakyat atau buahnya. Ketika Soekarno marah kepada orang asing, rakyat Indonesia tidak memusuhinya. Tapi justru bangga dan mencintainya.

Esensi dari kemarahan Soekarno, untuk membangunkan semangat rakyat Indonesia. Terhadap Malaysia misalnya. Kemarahan Soekarno, hanya karena para pemimpin Malaysia tidak mau berjuang mencapai kemerdekaan, tetapi hanya menunggu hadiah dari penjajah Inggris. Itu sama dengan merendahkan derajat bangsa serumpun.

Cara Soekarno menghadapi Malaysia, sangat berbeda dengan Presiden SBY. Tidak ada catatan yang menunjukkan, ayah Megawati Soekarnoputri itu suka melampiaskan kemarahannya hanya karena ia menghadapi banyak persoalan. Dalam personaliti Soekarno berbaur dua indentitas: sebagai pemimpin dan selaku rakyat biasa.

Toeti Kakiailatu, wartawati senior yang pernah bertugas di istana pada era Soekarno, bertutur. Seorang Menteri di Kabinet Soekarno pernah meminta uang kepada sang Proklamator itu. Pada waktu itu, "mood" Soekarno sebetulnya tidak begitu bagus. Tapi Soekarno dengan entengnya menjawab: "Coba periksa kantong jasku yang di gantung. Kalau ada uang, ambillah separuhnya, sisakan buat saya..." Sebuah sikap dari pemimpin yang tidak terpengaruh oleh "mood".

Soekarno menjadi Presiden-tidak dipilih secara langsung oleh rakyat, tetapi ia paham bagaimana pentingnya menjaga hubungan kemanusiaan. Menurut buku "Soekarno Penyambung Lidah Rakyat", karya Cindy Adams, dan "The Indonesian Tragedy" karya Brian May, Soekarno pemarah tetapi sekaligus pemaaf.

Tercatat 3 orang Indonesia dan satu warga Amerika Serikat yang pada awalnya dia marahi tetapi belakangan diberinya maaf. Mereka adalah Letnan Kolonel AH Nasution, Mayor Maukar (penerbang TNI AU) dan Letnan Kolonel Zulkifli Lubis. Lalu Alan Pope, penerbang pesawat mata-mata Amerika Serikat.

Nasution dimaafkan oleh Presiden Soekarno, sekalipun pada 1957, ia membawa panser dan sejumlah anak buahnya ke Istana untuk meminta Soekarno mundur dari jabatan Presiden. Nasution gagal dengan misinya. Tapi setelah insiden itu, Nasution oleh Presiden Soekarno justru dinaikkan pangkat dan memperoleh jabatan lebih tinggi.

Maukar dengan pesawat tempur menghujani Istana dengan tembakan mitraliur dari udara. Sasarannya Presiden Soekarno yang dicurigai Maukar sedang bercinta dengan Norma Sanger, sang kekasihnya. Pasca-kejadian itu, Maukar hanya diinterogasi tetapi tidak diapa-apakan. Maukar menghabiskan masa tuanya di Bali dan baru meninggal awal 2000-an.

Soekarno berkunjung ke perguruan Cikini, dimana Guntur Soekarnoputra, putera tertua Soekarno, bersekolah. Di sana Soekarno dilempari granat, tapi selamat. Soekarno menuduh Zulkifli Lubis yang menjabat Kepala Intelejens, sebagai pihak yang memplot usaha pembunuhan itu. Tapi pasca-peristiwa Cikini, Soekarno juga tidak mengucilkan Zulkifli.

Alan Pope, penerbang pesawat mata-mata AS. Pope sedang membantu Permesta, gerakan militer yang menentang pemerintahan Soekarno. Pesawatnya tertembak dan dia tertangkap. Pope dilepas Soekarno ke negara asalnya, dengan pesan, jangan ganggu lagi Indonesia.

Lain Soekarno, lain SBY dan lain pula Soeharto. Soeharto sebagaimana digambarkan wartawan Jerman Dr OG Roeder, dalam buku "The Smiling General", merupakan seorang yang selalu tersenyum. Soeharto bisa mengekspresikan rasa marahnya melalui senyum. Dengan cara itu, tidak akan ada anak buah Soeharto merasa dipermalukan di depan publik.

Masyarakat luas baru tahu bahwa Habibie pernah sangat marah kepada Letjen Prabowo Subianto, Pangkostrad di era Habibie, melalui buku. Rasa marah Habibie itu pun baru terungkap pada pasca masa kepriesidenannya.

Gus Dur, tidak mudah membedakan kapan sedang marah, bercanda atau sedang serius. Yang pasti Gus Dur lebih banyak meninggalkan kesan bahwa ia Presiden yang suka bikin orang tertawa. Dan tertawa itu sehat.

Megawati? Orang yang paling dia marahi atau musuhi di atas planet saat ini kelihatannya hanyalah Presiden SBY. Sejak pecah kongsi di 2004, hingga 2012, Megawati belum mau bersapa apalagi berjabat tangan dengan SBY. Mega tidak pernah secara eksplisit menjelaskan penyebab kemarahannya. Hal yang membedakannya dengan cara marah ala SBY.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar