Prediksi Skenario Pilpres 2014
Jokowi sudah terlanjur moncer paling tidak berdasarkan survey kompas. Beberapa nama juga termasuk tinggi elektabilitasnya, namun tidak berhenti sampai elektabilitas saja. Capres juga sangat harus didukung oleh mesin partai mengingat adanya kendala PT (Presidential Threshold) yang membuat partai partai menengah seperti Gerindra (walau punya capres yang lumayan), tetap tidak bisa memunculkan calon.
Dari hasil survei kompas berikut gambaran elektabilitas:
Jokowi: 43,5%
Prabowo: 11,1%
ARB: 9,2%
Wiranto: 6,3%
Mega: 6,1%
JK: 4,3%
Dari hasil di atas, saat ini sangat amat di luar nalar kalau Megawati memaksa maju pilpres sebagai calon presiden. Itu namanya kamikaze politik yang salah sasaran. Jadi hampir pasti Jokowi akan dimajukan jadi capres PDI-P terlepas wapresnya siapa.
Lalu siapa lawannya? Kalau mau melihat angin politik dan syarat Presidential Threshold sebesar 20% suara sah di Pemilu, hanya Abu Rizal Bakrie yang paling mungkin menjadi lawan Jokowi di pilpres. Asal diketahui saja, hanya 1 partai yakni PDI-P yang bisa dikatakan aman Presidential Threshold. Demikian hasil surveynya:
PDI-P: 21,8%
Golkar: 16,5%
Gerindra: 11,5%
Prediksi Skenario Pilpres 2014
Kalau bisa disimulasikan mungkin prediksi skenario pilpres 2014 yang paling mungkin terjadi dari syarat dan prasayarat di atas adalah sebagai berikut:
1. PDI-P akan meresmikan nama capres Jokowi sebelum Pemilu Legislatif. Mengapa? Jika PDI-P ingin mengamankan tiket pencapresan PDI-P bisa mengamankan dengan “jualan” Jokowi sebelum Pemilu 2014. Diyakini, korelasi pencapresan resmi Jokowi akan meningkatkan suara PDI-P di atas 22%-an. Dengan demikian, ibarat Indonesian Idol, PDI-P mendapat Golden Ticket untuk bebas mengajukan pasangan capres dan cawapres sendiri. Di sinilah keuntungan Megawati yang bisa turut tetap memasukkan nama trah Soekarno (Prananda atau pun Puan) sebagai cawapres Jokowi. Sebaliknya, jika Mega berkeras mengundur peresmian capres Jokowi setelah Pileg, itu beresiko untuk mengamankan suara PDI-P di atas 20%. Kalau sudah gagal melampaui Presdential Threshold, PDI-P harus mencari kawan koalisi lagi untuk mengumpulkan hingga 20% suara. Sebagai catatan, sekitar 5-6% suara Pemilu mungkin akan jatuh ke tangan Nasdem. Nasdem sedari dini sudah seakan menyatakan diri sepaham dengan PDI-P. Nasdem paling mungkin satu selimut koalisi dengan PDI-P.
2. Jokowi resmi capres sebelum Pileg 2014 akan meningkatkan suara PDI-P jauh di atas ambang PT, dengan kata lain justru mempersulit kompetisi lawan-lawannya. Apalagi melihat bahkan Golkar dan Gerindra masih jauh di bawah 20% untuk mengajukan capres. Kalau sudah begitu, yang paling mungkin adalah Golkar akan mencari koalisi sendiri, demikian pula dengan Gerindra. Agak tidak mungkin kalau Golkar dan Gerindra berkoalisi sebab mereka sudah punya calon presiden masing-masing yang bisa dibilang ambisius. Dalam hal ini, kemungkinan besar nama-nama seperti Mahfud MD, Dahlan Iskan, atau pun Pramono Edhie menjadi cawapres. Demokrat / PAN / Hanura yang sudah terseok-seok, kemungkinan besar akan berkoalisi dengan Golkar dan memunculkan: ARB-Pramono atau ARB-Dahlan Iskan. Sedangkan, Gerindra mungkin akan berusaha mengambil hati partai lain seperti PKB, PPP, PKS, atau PBB. Namun kecil kemungkinan bahwa suara gabungan semuanya akan menghasilkan lebih dari >20% suara Pileg. Kalaupun bisa sampai 20% akan butuh perjuangan panjang bagi Gerindra untuk meyakinkan partai-partai gurem lainnya untuk menjadikan wakil mereka “hanya” sebagai cawapres.
3. Melawan Prabowo atau pun ARB, Jokowi jelas memiliki keunggulan mutlak. Prabowo dan ARB terlalu lekat dengan pencitraan lewat iklan, yang justru tidak Jokowi lalui. Rakyat sudah bosan dengan polesan. Keduanya juga memiliki kaitan dengan hal yang kurang baik di masyarakat. ARB sangat kental dengan gelapnya isu Lapindo dan kesan pengusahanya yang terlalu mendominasi. Sedangkan Prabowo masih terseret dengan isu pelanggaran Hak Asasi Manusia dan bayang-bayang sebagai prajurit karbitan Soeharto. ARB mungkin masih lebih unggul sedikit dibanding Prabowo. ARB relatif ramah terhadap ide demokrasi, sementara Prabowo yang militeristik justru menakutkan bagi demokrasi. Sebagian bahkan mungkin bilang jangan sampai Prabowo terpilih karena kita bisa kembali ke jaman represif ala Soeharto. Apalagi, kalau dipikir-pikir selain di organisasi kemiliteran, apa sumbangsih dan prestasi Prabowo selama ini selain lari ke Lebanon?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar