Sabtu, 15 Maret 2014

Putra Mahkota Itu Bernama JOKOWI


Sudah agak lama juga saya tidak menulis di blog. Entah karena kesibukan atau karena waktu senggang yang sengaja disibuk-sibukan. Dan mumpung ini hari libur, kerinduan menulis bisa sedikit terobati.
Dalam minggu ini semua media massa menyoroti keputusan penting yang dikeluarkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri terkait pencapresan Gubernur DKI Joko Widodo. Sebuah keputusan yang saya kira ditunggu oleh hampir seluruh rakyat Indonesia.
Tulisan ini mungkin sedikit subyektif, tapi mengingat saya bukan kader apalagi caleg dari PDI Perjuangan, maka unsur obyektifitas barangkali juga bisa sedikit terpenuhi.

Trah Soekarno
Walaupun keputusan itu bagi sebagian orang sudah bisa ditebak, tapi tidak bisa disangkal bahwa untuk sebagian yang lain hal ini tetap mengejutkan.
Sebagai partai kader dengan ideologi nasionalis, PDI Perjuangan tetaplah partai eksklusif dengan pola aristokrat yang sangat kuat. Sebuah partai dengan ketokohan yang sangat dominan. Mulai dari sosok Soekarno sampai pada diri ketua umumnya sendiri.
Pernah beberapa waktu lalu, saya sempat bertamu ke kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung. Saat itu saya menemani salah seorang Bupati dari Sultra yang berniat maju kembali di Pilkada melalui PDI Perjuangan. Kesan aristokrasi itu sangat kental terasa (kesan ini sedikit banyak bisa kita tangkap juga melalui media massa), singkat cerita untuk pertemuan yang hanya berlangsung kurang dari setengah jam kami harus menunggu lebih dari 5 jam dengan protokoler yang sangat ketat. Bayangkan, seorang Bupati menunggu lebih dari 5 jam? Bahkan untuk ukuran Jakarta itu sudah Wah...
Makanya banyak kalangan yang memprediksi Capres atau Cawapres dari partai ini tidak akan jauh dari trah Soekarno, kalau bukan Ketua Umum sendiri yang maju.

Keputusan Tepat?
Di tengah banyaknya partai yang menjagokan Ketua Umumnya sendiri sebagai capres, keputusan PDI Perjuangan ini amatlah menarik ditelaah.
Lepas dari kalkulasi politik yang menyertai keputusan ini, atau memang murni sikap dari seorang negarawan seperti klaim kadernya sendiri, tak pelak ini merubah peta politik di Indonesia. Jokowi yang secara elektabilitas selalu paling tinggi dari semua lembaga survey, bisa menjadi magnet baru pertarungan kali ini. Bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi calon partai koalisi nantinya.
Disisi lain, ini bisa menjadi pelajaran politik bagi para ketua umum yang menjadi capres dari partai lainnya bahwa syahwat politik yang besar tidak menghalangi orang untuk tetap berpijak di bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar