Selasa, 15 Juli 2014

Fatamorgana Koalisi Permanen


Komisi Pemilihan Umum baru akan mengumumkan pemenang pemilihan presiden dan wakil presiden pada 22 Juli pekan depan. Namun Senin (15/7/2014) kemarin partai pengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa telah mendeklarasikan terbentuknya koalisi permanen Merah Putih.

Anggota koalisi permanen Merah Putih adalah Partai Gerindra, PPP, PAN, PKS, Partai Golkar dan PBB. Partai Demokrat yang turut mengusung Prabowo-Hatta absen dalam deklarasi yang dihelat di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, itu.

Apabila duet Prabowo-Hatta gagal memenangkan pilpres, satu-satunya pilihan bagi koalisi permanen Merah Putih adalah menjadi oposisi. Seberapa kuat koalisi ini bila menjadi oposisi?

Belajar dari Setgab pemerintahan sekarang rasanya sulit bagi partai koalisi untuk betah diluar kekuasaan. Prediksi saya Partai Golkar dan PPP akan cenderung bergabung dengan koalisi pendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Demikian pula PKS yang terkenal suka berakrobat politik. Mungkin yang agak menarik ditunggu adalah konsistensi Demokrat.

Istilah 'permanen' itu sendiri juga memunculkan sejumlah pertanyaan. Dalam sistem parlementer sebuah koalisi terbentuk atas dasar kesamaan ideologi dan platform, atau adanya komoditi koalisi.

Komoditi koalisi dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan untuk mendapatkan jabatan politik, misalnya di kabinet. Di sini koalisi permanen Merah Putih menghadapi masalah, karena belum tentu pasangan Prabowo-Hatta memenangkan pilpres. Kita hanya bisa berharap, seberapa kuat 'fatamorgana' ini berlangsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar