Selasa, 15 Juli 2014

Fatamorgana Koalisi Permanen


Komisi Pemilihan Umum baru akan mengumumkan pemenang pemilihan presiden dan wakil presiden pada 22 Juli pekan depan. Namun Senin (15/7/2014) kemarin partai pengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa telah mendeklarasikan terbentuknya koalisi permanen Merah Putih.

Anggota koalisi permanen Merah Putih adalah Partai Gerindra, PPP, PAN, PKS, Partai Golkar dan PBB. Partai Demokrat yang turut mengusung Prabowo-Hatta absen dalam deklarasi yang dihelat di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, itu.

Apabila duet Prabowo-Hatta gagal memenangkan pilpres, satu-satunya pilihan bagi koalisi permanen Merah Putih adalah menjadi oposisi. Seberapa kuat koalisi ini bila menjadi oposisi?

Belajar dari Setgab pemerintahan sekarang rasanya sulit bagi partai koalisi untuk betah diluar kekuasaan. Prediksi saya Partai Golkar dan PPP akan cenderung bergabung dengan koalisi pendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Demikian pula PKS yang terkenal suka berakrobat politik. Mungkin yang agak menarik ditunggu adalah konsistensi Demokrat.

Istilah 'permanen' itu sendiri juga memunculkan sejumlah pertanyaan. Dalam sistem parlementer sebuah koalisi terbentuk atas dasar kesamaan ideologi dan platform, atau adanya komoditi koalisi.

Komoditi koalisi dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan untuk mendapatkan jabatan politik, misalnya di kabinet. Di sini koalisi permanen Merah Putih menghadapi masalah, karena belum tentu pasangan Prabowo-Hatta memenangkan pilpres. Kita hanya bisa berharap, seberapa kuat 'fatamorgana' ini berlangsung.

Sabtu, 28 Juni 2014

Kilas Balik Fase Grup FIFA World Cup 2014


Piala Dunia sebentar malam akan memasuki fase knock out, mari kita flash back sebentar hal-hal unik dalam perjalanan tim-tim di fase grup.

1. Seremoni Pembukaan Yang Mengecewakan

Tidak seperti Olimpiade, upacara pembukaan Piala Dunia jarang yang mengesankan. Kita selalu disuguhi sebuah koreografi massal yang dimaksudkan sebagai peragaan seni avant-garde tapi cenderung lebih terlihat seperti mimpi buruk warna-warni orang yang terlalu banyak menenggak acid.
Tapi bahkan untuk standar upacara pembukaan Piala Dunia sekali pun, pembukaan di Brasil ini mengecewakan. Biaya seremoni yang kabarnya mencapai angka 9 juta dollar ini hanya memberikan kita ratusan penari yang berkostum seperti Melly Goeslaw. Satu lagi, pria dewasa yang memakai kacamata hitam di dalam ruangan dan menyebut dirinya Pitbull seharusnya dilarang bernyanyi di depan umum.

2. Brasil Belum Berhasil Terlihat Meyakinkan

Ekspektasi publik Brasil dalam Piala Dunia pertama yang digelar di tanah mereka sejak terakhir kali tahun 1950 sungguh besar. Apa pun yang mereka raih selain menjadi juara akan dianggap sebuah kegagalan. Meski lolos dari babak grup sebagai juara, permainan anak asuh Luiz Felipe Scolari masih jauh dari meyakinkan.
Neymar sejauh ini masih bisa memanggul permainan Brazil di puncaknya, namun Seleccao kadang terlihat kerepotan dalam membongkar pertahanan lawan, terlebih mengingat bahwa sebagai ujung tombak, mereka memiliki striker yang malu-malu untuk masuk ke kotak penalti lawan seperti Fred.

3. Akhir yang Konyol dari Spanyol

Piala Dunia kali ini diwarnai dengan juara bertahan Spanyol yang bahkan pulang kampung lebih cepat dibanding pemudik lebaran early birds yang ingin menghindari macetnya Pantura. Vicente Del Bosque harus membayar mahal atas 2 hal: kepercayaannya kepada pemain veteran Spanyol dan kengototannya untuk mengubah filosofi tiki-taka La Furia Roja. Kekalahan di 2 pertandingan awal menjadikan Spanyol juara bertahan ketiga di empat Piala Dunia terakhir yang tersingkir di fase penyisihan grup.
Kalah 1-5 dari Belanda jelas luka yang paling membekas. Sampai detik ini, Sergio Ramos dikabarkan sering terbangun pada malam hari akibat mimpi buruk di mana dalam mimpinya ia sering diajak adu lari oleh sosok hantu kilat berkepala plontos.

4. Inggris Tetaplah Inggris

Ini mungkin satu-satunya Piala Dunia di mana Inggris memenuhi harapan dan prediksi sebelum turnamen dimulai. Sayangnya prediksi tersebut adalah gagal untuk lolos ke 16. Pasukan Roy Hodgson terlihat menjanjikan di lini depan, namun akhirnya harus menerima suratan takdir bahwa mereka tak cukup cakap bermain sepak bola.
Inggris menyelesaikan turnamen ini sebagai juru kunci dan tanpa kemenangan, tapi satu hal yang menggembirakan, di pertandingan terakhir Inggris bermain luar biasa dengan menahan imbang juara grup, Kosta Rika.

5. Wasit, Itu Semprotan Apa, Sit?!

Publik sepakbola dunia akhirnya diperkenalkan dengan inovasi untuk menandai posisi tendangan bebas dan pagar betis dengan cat semprot temporer yang digunakan wasit.
Alat ini sebelumnya sudah lazim digunakan di kompetisi domestik Brasil dan sudah pernah dicoba juga di Copa America. Dengan adanya alat ini, maka para pemain bertahan dalam tendangan bebas tak lagi bisa tipu-tipu untuk bergerak maju keluar dari pagar betis. Sayangnya inovasi tidak digunakan dari dulu. Akan menarik untuk melihat Robbie Fowler mengendus garis putih ini tak lama setelah disemprot wasit.

6. Kosta Rika adalah Favorit Semua Orang

Semua orang gemar mendukung underdog, terutama setelah tim jagoan mereka tersingkir, Tidak ada yang lebih underdog dari Kosta Rika, yang seperti Sansa Stark di Westeros, bertahan hidup lebih lama dibanding orang-orang lain yang nampak lebih kuat.
Waktu undian Piala Dunia dilakukan tahun lalu, pelatih Kosta Rika Jorge Luis Pinto tertangkap kamera tertawa untuk menghibur diri setelah timnya dipastikan segrup dengan Inggris, Italia, dan Uruguay. Kemungkinan besar Pinto masih tertawa sampai sekarang.

7. Pressing, pressing, pressing

High-pressing bukan barang baru di sepak bola sejak Arrigo Sacchi menjadikannya sakaguru tim AC Milan yang legendaris di akhir dekade 80-an. Tapi pada Piala Dunia kali ini kita menyaksikan pressing menjadi kunci keberhasilan beberapa tim melakukan kejutan. Tengok ketika Louis van Gaal menginstruksikan Bruno Martins Indi dan Stefan De Vrij untuk melakukan high-pressing terhadap para gelandang Spanyol hingga melewati garis tengah.
Atau ketika Kosta Rika mencekik lini tengah Italia dengan pressing tinggi yang membuat Andrea Pirlo tampil di bawah standar. Tak pelak lagi, yang menjadi tema utama Piala Dunia kali ini adalah pressing tinggi yang lebih ketat dari skinny jeans para hipster.

8. Selamat Datang di Pergaulan Dunia, Amerika!

Menyenangkan untuk melihat akhirnya masyarakat Amerika Serikat bisa mengapresiasi pertandingan football yang bolanya bundar dan bukan lonjong seperti telur. Melonjaknya antusiasme publik Amerika ditandai dengan beredarnya template surat izin dari kerja untuk menonton pertandingan yang ditandatangani pelatih Jurgen Klinsmann dan video pesan semangat untuk USMNT yang dikirimkan Hulk Hogan dan Will Ferrell. Angka penonton TV di Amerika pada siaran pertandingan timnas mereka di Piala Dunia kali ini dikabarkan menyaingi angka penonton NBA.
Niat mereka wajib dihargai walau kebanyakan penonton Amerika masih berusaha untuk mengikuti ritme pertandingan sepak bola. Dalam sebuah acara nonton bareng yang dihadiri beberapa warga Amerika, mereka sibuk bersorak-sorai setiap kali tim Amerika maju menggiring bola sejauh 10-yard - sebuah prestasi untuk ukuran American Football.

9. Tim-Tim Asia Memprihatinkan

Salah satu slogan dari federasi sepak bola Asia (AFC) adalah The Future is Asia. Entah kapan masa depan yang dimaksud akan datang, tapi yang pasti bukan tahun ini. Empat wakil Asia semuanya masuk kotak di babak penyisihan grup. Penampil paling menyedihkan tentu saja Jepang yang disebut-sebut sebagai Inggris-nya Asia dalam hal mengecewakan para pendukungnya.
Yang paling lumayan adalah Australia, mengingat kualitas skuat mereka yang sebenarnya pas-pasan. Penampilan Socceroos saat menghadapi Belanda sungguh membesarkan hati. Gol tendangan voli sensasional Tim Cahill dikabarkan membuat kawasan Kuta dan sekitarnya bergetar.

10. Luis Suarez, Lagi..!?

Jika kita mempercayai federasi sepak bola Uruguay, maka bekas gigitan di pundak Giorgio Chiellini adalah hasil Photoshop. Jika kita mempercayai Diego Lugano, maka bekas gigitan tersebut muncul karena media Inggris yang lebay. Jika kita mempercayai pembelaan suporter Liverpool, maka Luis Suarez adalah penemu obat anti-HIV dan akan membawa perdamaian ke Timur Tengah.
Namun nyatanya di tayangan ulang terlihat jelas bagaimana Suarez menancapkan giginya ke pundak Chiellini yang malang. Larangan 4 bulan dilarang melakukan aktivitas yang berhubungan dengan sepakbola dan tidak boleh bermain dalam 9 pertandingan tidak terasa sebagai hukuman yang berat jika mengingat ini bukan pertama atau kedua, tapi ketiga kalinya Suarez menggigit orang di lapangan. Entah apa pun pembelaan Anda, manusia dewasa yang normal tidak menggigit orang lain, kecuali nama anda adalah Hannibal Lecter.

Sabtu, 07 Juni 2014

Pilpres SATU PUTARAN?? Eits, Tunggu Dulu


Pemilihan presiden yang bakal dihelat 9 Juli nanti diiukuti dua pasangan calon, yakni Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Karena hanya diikuti dua pasangan calon, banyak yang memprediksi pilpres hanya akan berlangsung 1 putaran.
Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono haqul yakin pilpres 2014 akan berlangsung 1 putaran. Dampak pilpres hanya diikuti dua pasangan menurut SBY juga akan menghemat anggaran negara.
Anggaran yang semestinya digunakan untuk pilpres putaran dua bisa dialokasikan untuk kepentingan lain. Tapi benarkah pilpres pasti berlangsung satu putaran?
Syarat pemenangan pilpres termuat dalam Undang-undang nomor 42 tahun 2008 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden. Pada pasal 159 ayat 1 disebutkan bahwa, Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluhpersen) dari jumlah suara dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari 1/2 (setengah) jumlah provinsi di Indonesia.
Syarat perolehan 50 persen suara dengan hanya dua pasangan capres yang bertanding, bisa saja terpenuhi dalam satu putaran. Namun syarat bahwa kemenangan minimal 20 persen suara di setengah jumlah provinsi akan menjadi tantangan bagi pasangan capres dan cawapres.
Begini aturan lengkap syarat kemenangan capres dan cawapres sesuai pasal 159 UU nomor 42 tahun 2008 tentang pilpres.
Pasal 159
(1) Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari 1/2 (setengah) jumlah provinsi di Indonesia.
(2) Dalam hal tidak ada Pasangan Calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), 2 (dua) Pasangan Calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dipilih kembali oleh rakyat secara langsung dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
(3) Dalam hal perolehan suara terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh 2 (dua) Pasangan Calon, kedua Pasangan Calon tersebut dipilih kembali oleh rakyat secara langsung dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
(4) Dalam hal perolehan suara terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh 3 (tiga) Pasangan Calon atau lebih, penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara yang lebih luas secara berjenjang.
(5) Dalam hal perolehan suara terbanyak kedua dengan jumlah yang sama diperoleh oleh lebih dari 1 (satu) Pasangan Calon, penentuannya dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara yang lebih luas secara berjenjang.
Bisakah dua syarat tersebut dipenuhi oleh salah satu pasangan sehingga pilpres hanya akan 1 putaran?

Minggu, 25 Mei 2014

Real Madrid Juara Champions League, Istana Pasir Florentino Perez


Florentino Perez melonjak kegirangan begitu Sergio Ramos mencetak gol penyeimbang pada menit ke 93 dalam Final Champions League di Lisbon kemarin. Bayang-bayang kekalahan yang menghantui sepanjang 90 menit setelah gol pertama Altelico Madrid tiba-tiba sirna dihadapannya.
Ya, dia patut kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah yang paling diidamkan pasalnya setelah bertahun-tahun menggelontorkan ratusan juta euro membangunkan dinasti yang dia sebut Los Galacticos di tengah krisis ekonomi yang melanda Spanyol baru kali ini kesampaian.
Sejak dilanda great depression pada tahun 2008, perekonomian negeri matador itu memang belum sepenuhnya pulih. Pada akhir 2013 saja bank sentral Spanyol menyatakan bahwa hutang publik menyentuh angka 961 miliar Euro, atau 94,02% dari Produk Domestik Bruto mereka. Dan nyatanya angka itu merupakan yang tertinggi sejak 1994.
Belum masalah inflasi, tingginya inflasi berdampak terhadap meningkatnya angka pengangguran di negara yang terletak di Semenanjung Iberia itu. Sampai-sampai, angka pengangguran di negara yang diperintah Raja Juan Carlos I itu mencapai 20,43% di penghujung 2013. Angka persentase ini adalah tingkat pengangguran tertinggi sejak 1976.
Dan Madrid menjadi kota dengan tingkat pengangguran tertinggi di Eropa. Tingkat pengangguran di Madrid (25,93%) jelas lebih tinggi jika dibandingkan dengan London yang hanya sebesar 6,8% pada tahun yang sama. Atau, jika dibandingkan dengan Paris yang hanya “menampung” pengangguran sebesar 3.8%.
Florentino Perez barangkali juga lupa bahwa klub yang dipimpinnya malah menambah kompleksitas masalah ekonomi di ibukota dengan Program jor-joran yang dilakukannya. Betapa tidak, Pemerintah kota Madrid ditengah krisis pada tahun 2013 masih sempat memberikan bantuan ratusan juta euro kepada Real Madrid dari dana pinjaman Pemerintah Jerman. Belum lagi keringanan-keringanan lain baik dari Pemerintah kota maupun dari pihak kerajaan Spanyol sendiri, semisal dalam hal pajak.
Komisi Uni Eropa bahkan telah memperingatkan Pemerintah Spanyol terhadap kebijakan mereka pada beberapa klub sepakbola, kalau mereka benar-benar ingin keluar dari krisis ekonomi yang melanda. Perlu di catat bahwa hanya sedikit klub sepakbola Spanyol yang benar-benar sehat secara finansial, salah satunya FC. Barcelona. Disamping konsep pengelolaan klub yang seimbang, Barcelona adalah kota pelabuhan dan industri yang tahan terpaan badai krisis.
Jadi loncatan Florentino Perez, senyum sangat lebar pemain termahal dunia Gareth Bale setelah mencetak gol atau teriakan emosional Cristiano Ronaldo sambil memamerkan otot tidak lebih dari euforia murid taman kanak-kanak di wahana permainan, karena pada akhirnya mereka akan kembali diperhadapkan pada realita utang klub yang membengkak, krisis ekonomi yang melanda ibukota dan bangunan istana pasir mereka yang terancam sirna diterpa hempasan ombak.

Kamis, 08 Mei 2014

Bidikmisi atau Membidik Untuk Sebuah 'Misi'


Rumah saya itu tampaknya selalu jadi ajang curhat dan posko pengaduan untuk berbagai masalah. Seperti kemarin, kali ini datang keluarga jauh dari Maluku Utara. Keluhannya juga langsung ke pokok masalah, "o anak, coba ale sadarkan dulu beta pung anak gadis" katanya dengan logat Maluku yang kental.
Dengan setengah bercanda saya jawab, "Sadarkan? Pingsan dimana dia Pak?". Rupanya anak si bapak yang mahasiswi Program Bidikmisi Unhalu itu berniat keluar dari asrama dengan alasan tertekan dan stres oleh ketatnya aturan asrama bidikmisi.
Logika saya, secara normatif yang namanya asrama tentu harus dijalankan dengan aturan yang mengikat. Tapi demi tidak mengecewakan si bapak, saya berjanji untuk menemui anaknya untuk diajak sedikit berkompromi mengingat kondisi ekonomi kedua orang tuanya.
Tapi di sisi lain, kejadian ini juga seperti mengkonfirmasi informasi yang saya peroleh selama ini bahwa pelaksanaan Program ini memang agak menyimpang. Padahal dari sononya bidikmisi itu 'hanya' program bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa kurang mampu dengan penghasilan orang tua paling tinggi 3 juta rupiah perbulan.
Pada praktiknya di Unhalu Program bidikmisi ini dijalankan mirip-mirip mengelola pesantren. Mahasiswi diwajibkan menggunakan jilbab tradisional (cenderung ekstrim) plus aturan ketat islami lainnya, bahkan dari informasi yang saya peroleh para mahasiswi itu dilarang tidur sekamar walaupun dengan sesama jenis sekalipun (boro boro dengan lawan jenis).
Apakah ini hanya sekedar 'metode' segelintir orang atau memang menjadi kebijakan pimpinan universitas di tingkatan yang paling tinggi saya tidak tau pasti. Yang jelas hal ini mengusik tanda tanya kita. Apalah hak kita umat Islam memonopoli Program ini. Bidikmisi tidak bisa seenaknya digunakan sebagai media indoktrinasi paham ataupun aliran tertentu.
Keputusan keluar dari si mahasiswi itu adalah hal lain, karena itu menyangkut pilihan yang sifatnya pasti subyektif tapi pelaksanaan programnya sendiri adalah hal lainnya lagi yang patut juga kita kritisi.

Jumat, 18 April 2014

Aplikasi Made in Indonesia


Baru saja saya membaca berita ini, “Facebook dkk. Sedot Rp 19 triliun dari Indonesia“. Dikatakan bahwa Indonesia seharusnya membuat aplikasi seperti facebook dan kawan-kawan itu. Apakah jika sudah memiliki aplikasi buatan sendiri maka pengguna Facebook, Twitter, Path akan turun? Jawabannya adalah TIDAK.

Saat ini sudah banyak aplikasi serupa. Lihat saja Zohib yang punya aplikasi percobaan mirip – bahkan terlalu mirip – dengan facebook dan twitter. Penggunanya? Tidak banyak. Mengapa demikian? Ada banyak alasan. Contoh lain yang buatan Indonesia juga adalah Mindtalk. Yang ini penggunanya sudah lumayan banyak.

Pertama, sudah terlalu banyak teman dan keluarga kita di Facebook atau Twitter. Tidak mudah pindah dari sebuah layanan ke layanan lain. Namanya juga media sosial. Aspek sosialnya yang kental. Di mana yang lebih banyak kerumunannya maka di situlah orang semakin tertarik untuk bergabung.

Mendapatkan pengguna juga tidak mudah. Biaya marketing untuk mendapatkan pengguna itu tidak mudah. Apalagi kalau diinginkan pengguna yang menetap (sticky), bukan yang hanya sekedar daftar kemudian tidak pernah berkunjung lagi. Inilah sebabnya WhatsApp dibeli mahal oleh Facebook, karena jumlah penggunanya banyak.

Kedua, orang Indonesia kelihatannya lebih menyukai buatan luar negeri daripada buatan Indonesia sendiri. Padahal ada banyak produk dan layanan yang buatan Indonesia jauh lebih baik kualitasnya. Mungkin kalau buatan Indonesia kurang keren ya? Ayo cintai buatan Indonesia. Yang ini masih merupakan pekerjaan rumah kita bersama.

Ketiga, penyedia layanan Indonesia sering kurang baik dalam melayani pelanggannya. Lambat, kurang responsif, defensif, dan hal-hal yang negatif lainnya. Padahal semestinya kita dapat memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita sendiri.

Jadi bagaimana? Masih mau pakai buatan Indonesia? Atau apakah memang perlu menggunakan buatan Indonesia? Atau mungkin kita tidak peduli? Atau kita cukup berbangga saja bahwa ada orang Indonesia yang punya saham di Path misalnya. Atau kita bilang saja Aku Rapopo...!

Sabtu, 15 Maret 2014

Putra Mahkota Itu Bernama JOKOWI


Sudah agak lama juga saya tidak menulis di blog. Entah karena kesibukan atau karena waktu senggang yang sengaja disibuk-sibukan. Dan mumpung ini hari libur, kerinduan menulis bisa sedikit terobati.
Dalam minggu ini semua media massa menyoroti keputusan penting yang dikeluarkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri terkait pencapresan Gubernur DKI Joko Widodo. Sebuah keputusan yang saya kira ditunggu oleh hampir seluruh rakyat Indonesia.
Tulisan ini mungkin sedikit subyektif, tapi mengingat saya bukan kader apalagi caleg dari PDI Perjuangan, maka unsur obyektifitas barangkali juga bisa sedikit terpenuhi.

Trah Soekarno
Walaupun keputusan itu bagi sebagian orang sudah bisa ditebak, tapi tidak bisa disangkal bahwa untuk sebagian yang lain hal ini tetap mengejutkan.
Sebagai partai kader dengan ideologi nasionalis, PDI Perjuangan tetaplah partai eksklusif dengan pola aristokrat yang sangat kuat. Sebuah partai dengan ketokohan yang sangat dominan. Mulai dari sosok Soekarno sampai pada diri ketua umumnya sendiri.
Pernah beberapa waktu lalu, saya sempat bertamu ke kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung. Saat itu saya menemani salah seorang Bupati dari Sultra yang berniat maju kembali di Pilkada melalui PDI Perjuangan. Kesan aristokrasi itu sangat kental terasa (kesan ini sedikit banyak bisa kita tangkap juga melalui media massa), singkat cerita untuk pertemuan yang hanya berlangsung kurang dari setengah jam kami harus menunggu lebih dari 5 jam dengan protokoler yang sangat ketat. Bayangkan, seorang Bupati menunggu lebih dari 5 jam? Bahkan untuk ukuran Jakarta itu sudah Wah...
Makanya banyak kalangan yang memprediksi Capres atau Cawapres dari partai ini tidak akan jauh dari trah Soekarno, kalau bukan Ketua Umum sendiri yang maju.

Keputusan Tepat?
Di tengah banyaknya partai yang menjagokan Ketua Umumnya sendiri sebagai capres, keputusan PDI Perjuangan ini amatlah menarik ditelaah.
Lepas dari kalkulasi politik yang menyertai keputusan ini, atau memang murni sikap dari seorang negarawan seperti klaim kadernya sendiri, tak pelak ini merubah peta politik di Indonesia. Jokowi yang secara elektabilitas selalu paling tinggi dari semua lembaga survey, bisa menjadi magnet baru pertarungan kali ini. Bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi calon partai koalisi nantinya.
Disisi lain, ini bisa menjadi pelajaran politik bagi para ketua umum yang menjadi capres dari partai lainnya bahwa syahwat politik yang besar tidak menghalangi orang untuk tetap berpijak di bumi.